Oleh: Syaiful Bahry
Mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
“Ketika makanan yang seharusnya memberi kehidupan justru menghadirkan ketakutan, yang perlu kita selamatkan bukan hanya tubuh yang sakit, tetapi juga rasa aman yang mulai hilang.”
Makan seharusnya menjadi aktivitas paling sederhana dalam kehidupan manusia. Kita makan untuk tumbuh, bekerja, belajar, dan bertahan hidup.
Namun, ketika makanan yang seharusnya memberikan kesehatan justru dikaitkan dengan keracunan, yang terganggu bukan hanya tubuh. Rasa aman juga ikut terluka.
Inilah yang perlu dibaca secara serius dalam berbagai kasus dugaan keracunan yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
MBG pada dasarnya merupakan program dengan tujuan yang mulia. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, sementara negara berupaya memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Tetapi tujuan yang baik harus berjalan beriringan dengan proses yang aman. Sebab, ketika keamanan pangan dipertanyakan, program yang semestinya menghadirkan harapan dapat berubah menjadi sumber kecemasan.
Ketika MBG Mulai Diasosiasikan dengan Bahaya
Dalam psikologi, manusia belajar melalui pengalaman. Ketika seseorang mengalami pengalaman negatif setelah melakukan sesuatu, otak dapat membentuk hubungan antara tindakan tersebut dengan ancaman.
Makanan yang sebelumnya dipersepsikan sebagai sesuatu yang menyenangkan dapat berubah menjadi sesuatu yang dicurigai.
Bayangkan seorang anak yang melihat teman di sebelahnya muntah setelah menyantap makanan MBG. Anak tersebut mungkin tidak mengalami keracunan. Namun, pengalaman itu dapat meninggalkan pesan psikologis bahwa “makanan itu berbahaya”.
Jika pengalaman serupa terjadi berulang dan terus diberitakan, asosiasi tersebut dapat semakin kuat.
Inilah yang perlu diperhatikan. Keracunan makanan dapat selesai secara medis dalam hitungan hari, tetapi rasa takut terhadap makanan atau hilangnya rasa aman dapat bertahan jauh lebih lama.
Yang Terancam Bukan Hanya Kesehatan, tetapi Rasa Aman
Dalam psikologi, rasa aman merupakan kebutuhan fundamental manusia. Anak membutuhkan rasa aman di rumah, di sekolah, dan dalam lingkungan sosialnya.
Makanan yang diberikan di sekolah juga idealnya menjadi bagian dari pengalaman yang aman tersebut.
Ketika makanan yang dikonsumsi bersama-sama justru menimbulkan sakit, anak dapat mengalami kebingungan psikologis.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dapat berubah menjadi tempat yang diasosiasikan dengan pengalaman tidak menyenangkan. Makanan yang seharusnya menjadi sumber energi berubah menjadi objek kewaspadaan.
Program pemerintah yang seharusnya menghadirkan kepedulian pun dapat mulai dipersepsikan dengan rasa curiga.
Di titik inilah persoalan MBG tidak lagi hanya menjadi persoalan gizi dan keamanan pangan, tetapi juga menjadi persoalan psikologi sosial.
Ketakutan Itu Menular
Ketakutan manusia tidak selalu lahir dari pengalaman pribadi. Kita dapat merasa takut karena melihat orang lain mengalami sesuatu.
Seorang anak yang melihat puluhan temannya dibawa ke fasilitas kesehatan dapat mengalami kecemasan meskipun dirinya tidak mengalami gejala.
Orang tua yang melihat video anak-anak muntah di media sosial juga dapat mengalami kekhawatiran terhadap makanan yang sama.
Media sosial mempercepat proses tersebut. Satu video dapat ditonton ribuan bahkan jutaan orang. Cerita yang awalnya terjadi di satu sekolah dapat berubah menjadi kekhawatiran di berbagai daerah.
Di sinilah terjadi social amplification of risk, ketika suatu informasi mengenai risiko dapat dipersepsikan semakin besar karena diperkuat oleh komunikasi sosial, pemberitaan, pengalaman orang lain, dan emosi kolektif.
Karena itu, pemerintah tidak boleh menganggap kecemasan masyarakat sebagai sesuatu yang sepele.
Ketakutan publik adalah fakta psikologis yang harus dikelola, meskipun penyebab teknis keracunan masih diselidiki.
Orang Tua yang Khawatir Bukan Berarti Menolak MBG
Ada kesalahan cara pandang yang harus dihindari ketika orang tua mulai mempertanyakan keamanan MBG: jangan buru-buru menganggap mereka sebagai pihak yang menolak program.
Kekhawatiran orang tua merupakan bentuk protective instinct, yaitu dorongan psikologis untuk melindungi anak dari ancaman.
Orang tua memiliki pertanyaan yang sangat sederhana:
Apakah makanan ini aman untuk anak saya?
Pertanyaan tersebut tidak membutuhkan propaganda. Ia membutuhkan jawaban yang jujur, terbuka, dan berbasis bukti.
Ketika terjadi kasus dugaan keracunan, komunikasi pemerintah menjadi sangat penting.
Jangan hanya mengatakan, “Sedang dilakukan investigasi.”
Masyarakat juga membutuhkan informasi mengenai apa yang sedang diperiksa, langkah perlindungan terhadap anak, hasil pemeriksaan, serta tindakan korektif yang akan dilakukan.
Sebab, dalam situasi krisis, ketidakpastian sering kali lebih menakutkan daripada risiko itu sendiri.
Krisis Terbesar Adalah Krisis Kepercayaan
Program publik seperti MBG membutuhkan nilai kepercayaan.
Ketika masyarakat percaya bahwa negara mampu memberikan makanan yang aman dan sehat, mereka akan menerima program tersebut dengan tenang.
Sebaliknya, jika kasus terjadi berulang tanpa penjelasan yang meyakinkan, maka yang tumbuh bukan hanya rasa takut terhadap makanan. Yang tumbuh adalah ketidakpercayaan terhadap sistem.
Masyarakat pastinya mulai bertanya:
Apakah standar keamanan benar-benar dijalankan?
Apakah pengawasan dilakukan dengan serius?
Apakah kualitas makanan diperiksa secara konsisten?
Apakah keselamatan anak benar-benar menjadi prioritas?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan indikator penting bahwa masalah telah bergeser dari sekadar persoalan teknis menuju persoalan trust.
Dan kepercayaan publik tidak dapat dibangun dengan slogan.
Kepercayaan dibangun melalui kompetensi, konsistensi, transparansi, dan keberanian mengakui kesalahan.
Jangan Hanya Menyembuhkan Tubuh, Pulihkan Juga Psikologinya
Ketika terjadi dugaan keracunan, perhatian pertama tentu harus diberikan kepada kondisi medis korban.
Namun, jangan berhenti di sana.
Anak-anak yang mengalami kejadian tersebut perlu diperhatikan kondisi psikologisnya.
Apakah mereka takut makan?
Apakah mereka takut menerima makanan MBG kembali?
Apakah mereka mengalami kecemasan ketika melihat makanan tertentu?
Apakah mereka terus mengingat pengalaman ketika teman-temannya jatuh sakit?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kesehatan tidak hanya berarti bebas dari penyakit fisik. Kesehatan juga berarti memiliki rasa aman secara psikologis.
Karena itu, jika diperlukan, sekolah dan pemerintah daerah perlu menyediakan dukungan psikologis, komunikasi dengan orang tua, serta pemantauan terhadap anak yang mengalami kecemasan setelah kejadian.
MBG Membutuhkan Pendekatan Psikologi Organisasi
Ada satu aspek lain yang sering luput.
Jika penyebab keracunan nantinya ditemukan berkaitan dengan kelalaian manusia, pelanggaran prosedur, lemahnya pengawasan, atau masalah koordinasi, maka penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan mengganti menu atau memperbaiki makanan.
Kita harus melihat perilaku manusia dalam sistem organisasi.
Bagaimana kepemimpinan bekerja?
Bagaimana SOP diterapkan?
Bagaimana pengawasan dilakukan?
Bagaimana pekerja menghadapi tekanan pekerjaan?
Apakah ada budaya organisasi yang mendorong pelaporan kesalahan?
Apakah keselamatan menjadi nilai utama atau hanya menjadi dokumen administratif?
Kesalahan manusia sering kali bukan berdiri sendiri. Ia dapat muncul karena sistem yang memungkinkan kesalahan tersebut terjadi.
Karena itu, evaluasi MBG harus menyentuh human factor dan psikologi organisasi.
Jangan sampai anak belajar bahwa makanan adalah ancaman.
MBG Harus Membangun Kepercayaan, Bukan Sekadar Membagikan Makanan
Tujuan MBG adalah membangun generasi yang sehat.
Karena itu, jangan sampai program tersebut justru meninggalkan memori psikologis bahwa makanan yang diberikan negara adalah sesuatu yang harus dicurigai.
Anak-anak seharusnya belajar bahwa makanan adalah bagian dari kehidupan yang sehat, bukan sumber ketakutan.
Orang tua pun seharusnya dapat mengantarkan anak ke sekolah dengan keyakinan bahwa apa yang dikonsumsi anaknya berada dalam sistem yang aman dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak seharusnya hanya diukur dari berapa juta porsi makanan yang berhasil dibagikan.
Keberhasilan juga harus diukur dari pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah anak merasa aman?
Apakah orang tua percaya?
Apakah guru yakin?
Apakah masyarakat percaya bahwa negara mampu menjaga keselamatan anak-anaknya?
Sebab, makanan bergizi tanpa rasa aman tidak akan pernah menjadi program kesehatan yang utuh.
MBG adalah gagasan besar. Karena itu, pelaksanaannya juga membutuhkan standar yang besar, bukan hanya dalam hal gizi, tetapi juga dalam keamanan, transparansi, komunikasi, pengawasan, dan kesehatan psikologis.
Sebab ketika makanan menjadi risiko, yang harus kita pulihkan bukan hanya tubuh yang sakit.
Kita juga harus memulihkan rasa aman.
Dan ketika rasa aman hilang, yang paling sulit untuk dipulihkan bukanlah selera makan, melainkan kepercayaan.
Semoga menjadi pembelajaran bersama.
Syaiful Bahry
Mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta




















