Tahun 2026 menandai 81 tahun Indonesia merdeka. Sebuah perjalanan panjang sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 yang dibacakan Soekarno dan Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Dalam lebih dari delapan dekade perjalanan sebagai sebuah bangsa, Indonesia telah melewati berbagai dinamika: dari penjajahan menuju kemerdekaan, dari krisis menuju pertumbuhan, serta dari konflik menuju rekonsiliasi.
Momentum 81 tahun kemerdekaan karena itu bukan semata-mata waktu untuk berpesta dan merayakan keberhasilan. Lebih dari itu, kemerdekaan merupakan momentum untuk melakukan refleksi sekaligus memperbarui komitmen dalam mewujudkan cita-cita bangsa.
Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan berdarah. Rakyat dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang bahu-membahu melawan penjajahan selama ratusan tahun. Perlawanan dilakukan melalui perjuangan fisik maupun diplomasi hingga akhirnya berpuncak pada Proklamasi Kemerdekaan.
Proklamasi menjadi tonggak lahirnya Indonesia sebagai negara yang merdeka, berdaulat, dan memiliki kepribadian sebagai sebuah bangsa.
Namun, kemerdekaan politik bukanlah akhir dari perjuangan. Justru sejak saat itulah perjuangan baru dimulai: membangun bangsa, menegakkan hukum, mencerdaskan kehidupan rakyat, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Merdeka bukan hanya tentang upacara dan pengibaran bendera Merah Putih. Merdeka adalah tentang kebebasan rakyat untuk hidup layak, terbebas dari kemiskinan, memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, serta mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita dan masa depan.
Kemerdekaan sejati adalah ketika tidak ada lagi anak yang kelaparan, tidak ada petani yang tertindas, dan tidak ada rakyat yang merasa terpinggirkan dari pembangunan.
Sebagai tokoh pemuda asal Maluku Utara sekaligus Founder BARA Institute, Safrudin Taher menilai bahwa salah satu pekerjaan terbesar bangsa Indonesia saat ini bukan sekadar membangun jalan, gedung, maupun infrastruktur.
Menurutnya, pembangunan manusia justru menjadi fondasi yang jauh lebih menentukan bagi masa depan bangsa.
Sebab, gedung yang megah tidak akan banyak berarti jika generasi yang mengisinya tidak sehat. Infrastruktur yang baik juga tidak akan cukup apabila anak-anak bangsa kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya bermakna apabila masih terdapat keluarga yang tertinggal dan masyarakat yang belum mampu keluar dari berbagai persoalan sosial.
Karena itu, pembangunan harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni memastikan setiap warga negara mendapatkan kesempatan yang adil untuk tumbuh, berkembang, dan menikmati hasil pembangunan.
Meneladani Perjuangan Sultan Babullah
Bagi masyarakat Maluku Utara, semangat perjuangan melawan penjajahan juga memiliki akar sejarah yang kuat.
Pada masa perjuangan, rakyat Maluku Utara melakukan perlawanan terhadap penjajahan yang dipicu oleh berbagai bentuk kesewenang-wenangan, monopoli perdagangan rempah-rempah, serta praktik penindasan.
Safrudin Taher mengajak generasi muda untuk meneladani semangat perjuangan para tokoh sejarah Maluku Utara, salah satunya Sultan Babullah.
“Kita harus meneladani Sultan Babullah dalam memimpin perlawanan besar terhadap Portugis setelah wafatnya Sultan Hairun,” ujar Safrudin Taher.
Semangat tersebut, menurutnya, tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai catatan sejarah. Nilai keberanian, persatuan, kepemimpinan, dan keberpihakan kepada rakyat harus terus diwariskan kepada generasi saat ini.
“Untuk itu, tahun ke-81 kemerdekaan adalah momentum untuk menyatukan kembali semangat kebangsaan. Bangsa Indonesia harus tetap optimis, bekerja sama, dan menjaga semangat gotong royong untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang hakiki,” tegasnya.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana bangsa Indonesia mempertahankan apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu, tetapi juga tentang bagaimana generasi hari ini memastikan Indonesia terus bergerak menuju masa depan yang lebih baik.
Warisan para pendiri bangsa harus dijaga dengan terus belajar, bekerja, dan berjuang. Semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui pembangunan yang adil, peningkatan kualitas manusia, penegakan hukum, serta keberpihakan kepada masyarakat yang masih tertinggal.
81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan gotong royong demi mewujudkan Indonesia yang lebih adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat.




















